Selasa, 16 Oktober 2012

Teori-teori perkembangan peserta didik dan implikasi terhadap PBM



 Oleh: Miftakhur Rokhman
¨      TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET
Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi 4:
1.      Tahap Sensorik Motorik (0-2 tahun)
Sensorik motorik dipandang sebagai intelegensi praktis (practical intelegensi) yang berfaedah bagi anak usia 0-2 tahun untuk belajar berbuat dengan lingkungannya sebelum dia mampu berpikir mengenai apa yang ia perbuat terhadap lingkungannya. 
2.      Tahap Pra-Operational (2-7 tahun)
Pra operasional terjadi pada anak umur 2- 7 tahun. Perkembangan ini bermula pada saat anak telah memiliki penguasaan sempurna tentang obyek permanen. Artinya anak itu sudah memiliki kesadaran tetap eksistensinya sebuah benda yang sudah biasa ada.
3.   Tahap Concrete-Operational (7-11 tahun)
Pada periode Concrete-Operasional yang terjadi menjelang remaja anak mendapat tambahan kemampuan yang disebut sistem operasional (suatu langkah berpikir). Kemampuan ini berguna untuk memanaj pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu. Kemampuan bahasa dalam tahapan ini anak sudah mampu memanaj pandangan sendiri dengan pandangan orang lain. Akan tetapi dalam tahap ini anak masih dalam keterbatasan untuk memanaj pemikirannya.
3.      Tahap Formal Operational (11-15 tahun)
Tahapan ini adalah tahapan anak memasuki remaja, anak akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pikiran concrete-operational tetapi tidak hanya berlaku bagi remaja saja tetapi juga berlaku pada saat dewasa hingga tua.




Implikasi terhadap PBM:
a)      Bahasa dan cara pandang anak berbeda dengan orang dewasa. Untuk itu, dalam mengajar guru alangkah baiknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak.
b)      Peserta didik akan belajar lebih baik apabila dapat menyesuaikan lingkungan dengan baik. Pendidik harus membantu agar peserta didik dapat berinteraksi dengan lingkungan secara optimal.
c)      Materi yang harus dipelajari peserta didik sebaiknya yang menurut mereka baru tapi tidak begitu sulit untuk menerimanya.
d)     Memberi peluang agar peserta didik dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.

¨      TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF VIGOTSKY
Konsep teori Vigotsky tentang perkembangan kognitif adalah sebagai berikut:
1)      Hukum genetic tentang perkembangan
Setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran yaitu tataran sosial tempat orang-orang membentuk lingkungan sosialnya dan tataran psikologis dalam diri orang yang bersangkutan. Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan kontitutif terhadap pembentukan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang.   
2)      Zona perkembangan proksimal
Terdapat dua hal dalam perkembangan kognitif manusia yaitu perkembangan zona kedekatan dan perkembangan kontruksi atau pembentukan dalam perkembangan zona kedekatan (zona of proximal development), seorang anak memerlukan bantuan orang lain dalam menyelesaikan masalah atau tugas yang belum bisa dikerjakan. Dalam perkembangan pembentukan peran interaksi sosial mendominasi pembentukan mental siswa, guru dapat berfungsi sebagai pengingat dan mendukung siswa dalam mendapatkan mental yang lebih tinggi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa.
Vigotsky tidak menggunakan tes intelegensi menurutnya itu hanyalah hasil penilaian pada saat anak itu dites. Motivasi, kesenangan, kesehatan, dan lingkungan tempat beraktifitas akan mempengaruhi tingkat keberhasilannya. Hal ini disebutkan sebagai zona of proksimal development yaitu jarak antara kemampuan anak secara individu dengan kemampuannya pada saat mendapat bantuan memecahkan persoalan dari orang luar.
3)      Mediasi
Ada dua jenis mediasi yaitu mediasi meta kognitif dan mediasi kognitif. Mediasi meta kognitif adalah penggunaan alat-alat semiotic yang bertujuan untuk melakukan regulasi diri meliputi self planning, self monitoring, self cheeking, dan self evaluating. Mediasi meta kognitif berkembang dalam komunikasi antara pribadi selama menjalani kegiatan bersama orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten menggunakan alat-alat semiotic untuk membantu mengatur tingkah laku anak. Mediasi kognitif yaitu penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu. Mediasi konitif dapat berkaitan dengan konsep spontan dan konsep ilmiah memecahkan masalah. Proses social yang membentuk seorang anak mempengaruhi tingkat perkembangan kognitifnya. Vigotsky membagi perkembangan kemampuan bahasa dalam 4 tahap yaitu:
a.       Preintellectual Speech : kemampuan yang telah dipersiapkan secara biologi untuk perkembangan selanjutnya memerlukan interaksi dengan pihak luar.
b.      Na├»ve psychology : mulai menyadari bahasa mempengaruhi daya pikirannya
c.       Egocentric speech : mulai mengucapkan pengetahuannya baik ada orang di sekitarnya atau tidak.
d.      Inner speech : memberikan fungsi yang sangat penting untuk menuntun dan merencanakan tingkah lakunya.

Implikasi terhadap PBM
Dalam penerapan teori belajar Vygotsky, seorang pendidik tidak hanya memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi peserta didik harus membangun pengetahuan didalam pikirannya sendiri. Pendidik hanya membantu proses ini dengan cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan relevan bagi siswa dengan memberikan kesimpulan untuk menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar menyadari dan menggali strategi mereka sendiri untuk belajar.
Seorang pendidik juga harus paham karakteristik masing-masing peserta didik yang berhubungan dengan sosiokultural agar nantinya tercipta proses belajar nmengajar yang optimal

¨      TAHAP PERKEMBANGAN SOSIAL ERIKSON
Menurut Erikson, terdapat 8 fase perkembangan yang merupakan keberhasilan memecahkan konflik yang dialaminya, antara lain:
1.      Fase krisis yang pertama yaitu trust and mistrust (percaya dan tidak percaya) masa bayi usia 0- 2 tahun.
Erikson mengartikan masa itu anak semestinya dapat mengembangkan perasaan percaya atau perasaan aman bersama pengasuhnya. Yang penting adalah anak harus melalui tingkat berkembangnya lebih lancar. 
2.       Fase krisis yang kedua yaitu autonomy and shame (kemandirian dan rasa malu) masa usia 2- 3 tahun.
Pada usia ini anak mencoba untuk mandiri secara fisik yang memungkinkan kemampuan mereka untuk berjalan, lari tanpa dibantu orang lain lagi. Pada periode inilah kemampuan anak untuk percaya diri dikembangkan, ada rasa malu karena mereka merasa tidak mampu. Dalam hal ini orang tua perlu terus menggugah rasa percaya diri anak bahwa mereka dapat dan boleh menentukan hidup mereka sendiri tanpa tekanan.  
3.      Fase krisis ketiga yaitu inisiatif and guilt (rasa bersalah) masa usia 3- 6 tahun
Pada masa ini anak belajar berekspresi, belajar menertawakan diri, mulai memahami bahwa ada pribadi lain selain dirinya. Pada masa ini terletak dasar dalam diri anak untuk menjadi kreatif yang akan menjadi sangat penting pada masa berikutnya. Pada fase ini yang harus diciptakan yaitu identitas diri terutama berhubungan dengan jenis kelamin mereka karena pengaruh kelamin mulai dirasakan secara psikologis. A sense of purpose menurut Erikson anak menjadi tidak terganggu dengan perasaan bersalah. Anak dapat menentukan apakah mereka akan menjadi seperti ayah atau ibu tanpa perasaan bersalah dan anak tidak akan mengalami banyak kegelisahan karena meresa tidak dimengerti. 
4.      Fase krisis keempat yaitu mastery and inferiority (penguasaan dan rendah diri) masa usia 6- 12 tahun.
Pada masa inilah mereka baru mulai mampu berkomunikasi dengan anak lain sehingga mereka mulai dapat membentuk kelompok. Pada usia ini anak-anak sangat tertarik untuk belajar dan sangat sulit untuk berdiam diri. Anak yang melalui masa perkembangan ini dengan baik akhirnya anak akan memperoleh pelajaran dengan mendapatkan sense of mastery, suatu keyakinan bahwa mereka mampu menguasai masalah yang mereka hadapi. Anak-anak yang kehilangan kesempatan mengembangkan kompetensi mereka maka sense of mastery diganti oleh rasa rendah diri yang berdampak pda masa yang akan datang. Anak yang penuh rendah diri lebih sulit merasakan adanya kemampuan untuk mengembangkan kompetensi dalam bidang yang penting.
5.      Fase krisis kelima yaitu ego- identity vs role confussion (identitas diri vs kekacauan peran) masa remaja 12- 18/20 tahun.
Masa ini adalah sumber utama untuk mengembangkan teori perkembangan psikososialnya. Pada masa ini yang terpenting adalah puncak dari semua yang selama ini dilalui dan akan digunakan untuk mengarungi hidup yaitu menciptakan identitas diri yang benar adalah mengumpulkan semua pengetahuan yang dikumpulkan sampai saat ini dan menggabungkan semuanya menjadi suatu citra diri yang berguna bagi masyarakat. Salah satu faktor penting yang akan menentukan identitas diri adalah hadirnya Role Model yaitu seseorang yang bisa dijadikan contoh. Faktor penting lainnya adanya kejelasan bagaimana melangkah meninggalkan masa kanak-kanak menuju kedewasaan.    
6.      Fase krisis keenam yaitu intimacy and isolation (keintiman dan pengasingan) antara masa usia 20- 30 tahun.
Pada masa ini sudah dianggap dewasa dan bertanggung jawab penuh atas segala keberhasilan dan kegagalan. Pada masa ini mengenal dan mengizinkan untuk mengenal orang lain secara sangat dekat, atau masuk ke hubungan intim sedangkan kegagalan akan membuat terisolasi atau mengisolasi diri dari sekeliling. Keintiman dapat terjadi karena telah mengenal diri dan merasa cukup aman dengan identitas diri yang dimiliki. Jadi, pokoknya Intimacy adalah hubungan dua orang yang sudah matang dan mengenal diri masing-masing dan menciptakan suatu kesatuan yang mengahsilkan karya-karya yang lebih besar.
7.      Fase krisis ketujuh yaitu generativity and stagnation (perluasan dan stagnasi) masa usia antara pertengahan 20-50 tahun.
Pada masa ini keseimbangan antara Generativity dan Stagnasi. Generativity adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan luas daripada intimacy karena rasa kasih ini telah menggeneralisasi ke kelompok lain terutama generasi selanjutnya. Stagnasi adalah lawan dari generativity yakni terbatasnya kepedulian pada diri tidak ada rasa peduli pada orang lain. Orang yang mengalami stagnasi tidak lagi produktif untuk masyarakat karena mereka tidak bisa melihat hal lain selain hal itu menguntungkan diri mereka seketika.    
8.      Fase krisis kedelapan yaitu  integrity vs despair masa usia lanjut atau usia matang dimulai sekitar usia 60 tahun.
Masa ini masa terakhir dimana harus bersiap/sadar akan masanya sudah hampir selesai. Pada masa ini mengembangkan ego integrity, Integritas diri suatu harga untuk tidak takut mati karena telah melalui hidup dengan baik. Lawan dari rasa integritas diri ini adalah Despair atau putus asa. Orang yang putus asa pada usia lanjut ditandai dengan menyesal pada diri sendiri, terhadap kegagalan cara mereka menyia-nyiakan hidup.
Implikasi terhadap PBM
Pengembangan materi, strategi, sumber, metodologi, dan evaluasi belajar mengajar hendaknya memperhatikan tiga faktor, yaitu faktor pembawaan, lingkungan, dan kematangan.

¨      TAHAP PERKEMBANGAN MORAL KOHLBERG
Adapun tahapan perkembangan moral Kohlberg adalah sebagai berikut:
1)      Tingkat Pra-Konvensional
Pada masa ini seseorang sangat tanggap terhadap aturan-aturan kebudayaan dan penilaian baik atau buruk ini dalam rangka maksimalisasi kenikmatan atau akibat-akibat fisik dari tindakannya (hukuman fisik, penghargaan, tukar menukar kebaikan). Tingkat ini dibagi 2 tahap :
Tahap 1: Orientasi Hukuman dan Kepatuhan
Pada tahap ini, baik atau buruknya suatu tindakan ditentukan oleh akibat-akibat fisik yang akan dialami, sedangkan arti atau nilai manusiawi tidak diperhatikan. Seorang anak patuh terhadap suatu aturan, bukan karena faktor kesadaran internal, tetapi karena paksaan dari orang lain.
Tahap 2: Orientasi Instrumentalis
Pada tahap ini, tindakan seseorang telah diarahkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan memperdaya orang lain. Anak akan mematuhi semua aturan, kalau aturan tersebut  membuat dirinya senang. Dia mungkin tidak akan taat kalau peraturan tersebut tidak membuat dirinya senang atau tidak menguntungkan dirinya.
2)      Tingkat Konvensional
Pada tingkat ini seseorang menyadari dirinya sebagai seorang individu di tengah-tengah keluarga, masyarakat dan bangsanya. Kecenderungan orang pada tahap ini adalah menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dan mengidentifikasikan dirinya terhadap kelompok sosialnya. Tingkat ini terdiri dari 2 tahap:
Tahap 3: Orientasi Kerukunan atau Orientasi Good Boy-Nice Girl
Pada tahap ini orang berpendapat bahwa tingkah laku yang baik adalah yang menyenangkan atau menolong orang lain. Tujuan tidak lain, demi hubungan sosial yang memuaskan, maka diapun harus berperan sesuai dengan harapan keluarga, masyarakat atau bangsanya.
Tahap 4: Orientasi Ketertiban Masyarakat
Pada tahap ini tingkah laku seseorang didorong oleh keinginannya untuk menjaga tertib legal. Tingkah laku yang baik adalah memenuhi kewajiban, mematuhi hukum, menghormati otoritas, dan menjaga ketertiban masyarakat merupakan tindakan moral yang baik pada dirinya.   
3)      Tingkat Pasca-Konvensional atau Tingkat Otonom
Pada tingkat ini, orang bertindak sebagai subyek hukum dengan mengatasi hukum yang ada. Orang pada tahap ini sadar bahwa hukum merupakan kontrak sosial demi ketertiban dan kesejahteraan umum, maka jika hukum tidak sesuai dengan martabat manusia, hukum dapat dirumuskan kembali. Perasaan yang timbul pada tahap ini adalah rasa bersalah dan yang menjadi ukuran keputusan moral adalah hati nurani. Tahap ini dibagi menjadi 2 yaitu:
Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial
Pada tahap ini, cenderung ditafsirkan sebagai tindakan yang sesuai dengan kesepakatan umum. Orang pada tahapan ini memfokuskan pada pandangan legal tapi juga menekankan kemungkinan mengubah hukum melalui pertimbangan rasional. Pada dasarnya individu menyadari dan meyakini bahwa dengan berbuat baik, maka ia akan diperlakukan dengan baik pula oleh orang lain.
Tahap 6: Orientasi Prinsip Etis Universal
Pada tahap ini orang tidak hanya memandang sebagai subyek hukum tetapi juga sebagai pribadi yang dihormati. Respect for person adalah nilai pada tahap ini. Tindakan yang benar yaitu tindakan yang berdasarkan keputusan yang sesuai dengan suara hati dan prinsip moral universal.
Implikasi terhadap PBM
Perkembangan moral peserta didik dapat dibantu dengan cara mengembangkan dilemma moral. Untuk membangun kerja sama, interaksi saling membantu, memecahkan masalah bersama, dan diperlukan pengembangan kelompok belajar. Pendidik harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan melakukan tanya jawab dan diskusi. Siswa diberikan kesempatan untuk merefleksikan pengalaman-pengalamannya maka peranan guru yaitu menciptakan iklim yang dapat memberi rangsangan maksimal bagi siswa untuk mencapai tahap yang lebih tinggi.
Faktor penting dalam perkembangan moral adalah faktor kognitif terutama kemampuan berpikir abstrak dan luas.
 
¨      TAHAP PERKEMBANGAN AGAMA
   Tahap perkembangan agama terdiri dari 4 tahap yaitu:
  1. Masa anak-anak
Perkembangan kesadaran beragama pada usia anak-anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya terutama orang tua. Pada masa kanak-kanak kesadaran terhadap agama belum berkembang dengan baik. Ciri perkembangan agama pada masa anak-anak yaitu bersifat egosentris, ekspresif, inisiatif, spontanitas dan imajinatif.
  1. Masa remaja
Pada masa remaja sebenarnya tidak memerlukan pengawasan dan pengarahan seperti dilakukan pada masa anak-anak karena pada jiwanya telah tertanam nilai-nilai kesadaran. Namun tidak menutup kemungkinan lingkungan masih memiliki pengaruh dalam kehidupan beragama kaum remaja. Pada masa remaja akhir untuk pertama kali individu mampu memikul tanggung jawab penuh terhadap keyakinan agama mereka.
  1. Masa Dewasa Madya
Pada masa ini mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap sistem nilai yang dipilihnya, baik sistem nilai yang bersumber dari agama maupun norma lain dalam kehidupan. Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang tidak hanya ikut-ikutan. Cenderung bersifat realis sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku. Bersikap positif terhadap ajaran agama dan berusaha untuk memperdalam pemahaman agama. Mereka bersikap labih terbuka dan realistis terhadap ajaran agama serta terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial.
  1. Masa dewasa akhir
Pada masa ini kesadaran beragama mereka mencapai tingkat kemantapan. Mereka cenderung lebih mudah menerima pendapat keagamaan. Adanya perasaan takut akan kematian berdampak pada pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan akhirat.

Implikasi terhadap PBM
Dalam pembinaan agama pada peserta didik sangat diperlukan pembiasaan yang sesuai dengan perkembangan jiwanya, semakin kecil umur anak hendaknya semakin banyak latihan dan pembiasaan agama yang dilakukan pada peserta didik. Dan semakin bertambah umur anak, hendaknya semakin bertambah pula penjelasan dan pengertian tentang agama itu diberikan sesuai dengan perkembangan yang dijelaskannya.
Pembentukan sikap, pembinaan moral dan pribadi pada umumnya terjadi melalui pengalaman sejak kecil. Pendidik yang pertama adalah orang tua kemudian lingkungan (dunia luar). Sikap anak terhadap agama dibentuk pertama kali melalui pengalaman yang didapat dari orang tuanya kemudian disempurnakan dan diperbaiki oleh lingkungan (dunia luar). Dengan kata lain, pembiasaan sangatlah penting dalam pembinaan keagamaan anak. Pendidik hendaknya dapat memahami betul perkembangan jiwa agama yang sedang dilalui oleh peserta didik. Jadi, pelaksanakan pendidikan agama diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai agama pada peserta didik sehingga dapat berhasil melalui pendekatan dan metode yang sesuai.

0 komentar:

Poskan Komentar

Total Tayangan Laman

Its me

Its me

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More